Kamis, 05 Mei 2016

Menemukan Tuhan Dari Ajaran Hindu Di Bali. (Bagian Pertama)

Akhir-akhir ini saya baca di sosial media tentang perdebatan antara penganut Hindu tradisi Bali dengan penganut Hindu Sampradaya. Penganut Hindu Bali merasa cemas dengan kehadiran Hindu Sampradaya di Bali. Pasalnya kehadiran Hindu Sampradaya dianggapnya merusak tatanan Hindu di Bali. Penganut Hindu Bali juga merasa takut jika nanti budaya Bali diganti dengan Hindu ala India meskipun Hindu bersumber dari India. Hindu Bali sangat cemas melihat orang-orang Bali melakukan Aginihotra, Japamantram, dan ritual memandikan patung Ganesha dengan susu Gee. Padahal ritual tersebut sumbernya dari Weda. Kenapa harus cemas.

Tapi di sisi lain, penganut Hindu Sampradaya juga merasa cemas jika Hindu tidak mengalami kemajuan. Pasalnya selama ini Hindu Bali dilihatnya hanya berkutat pada Upakara saja. Sedangkan yang mempelajari Tatwa di Bali hanya sebagian saja. Selain itu, adat di Bali dianggapnya sangat memberatkan umat. Hindu Sampradaya khawatir jika Hindu Bali dikonversi oleh agama lain. Ritual tradisi di Bali dianggapnya sangat mahal dan boros. Setiap persembahan pasti dihiasi dengan korban binatang yang harganya sangat mahal. Selain harganya mahal, Hindu Bali juga melakukan pembunuhan terhadap binatang. Padahal dalam ajaran Hindu ada konsep Ahimsa alias tidak boleh membunuh mahluk hidup dengan alasan apapun.

Yang namanya kelompok apapun juga pasti memiliki pembenaran jika prinsip kelompoknya dikritik oleh kelompok lain. Hindu Bali di sosial media yang saya baca mengatakan bahwa jika benar Hindu mengenal konsep Ahimsa lalu kenapa Khrisna menganjurkan pada Arjuna untuk berperang? Dan kenapa setiap Awatara yang menjelma ke dunia selalu melakukan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya? Apa salahnya jika orang Bali menghaturkan babi guling dalam ritualnya? Bukankah dalam Bhagawadgita dijelaskan bahwa apapun yang engkau persembahkan kepada ku, aku akan menerimanya asalkan dengan hati tulus. Bukankah dalam salah satu lontar di Bali dijelaskan bahwa tujuan tuhan menciptakan hewan-hewan untuk dijadikan persembahan?

Tapi menurut saya, Hindu bersifat menerima budaya dan kearifan lokal. Makanya Hindu membenarkan bahwa ritual yang mempersembahkan daging binatang dibenarkan. Karena Hindu itu beranekaragam. Ada yang membenarkan melakukan persembahan berupa darah dan daging binatang seperti penganut paham Siwa Siddhanta atau yang lebih sering disebut Hindu Bali. Ada juga sama sekali yang tidak membenarkan membunuh apalagi mengkonsumsi daging binatang seperti yang diterapkan oleh Hindu Sampradaya seperti Hare Khrisna, Ananda Marga, dan sebagainya.

Menurut hemat saya, saya bukannya bermaksud  membela Hindu Bali. Boleh saja melakukan ritual asalkan dengan catatan jangan karena beryadnya, kemudian kita memiliki banyak hutang karena biaya Yadnya itu mahal dan boros, jangan sampai menjual tanah warisan untuk beryadnya, dan jangan melakukan perjudian di dalam pura ketika ada Piodalan kecuali ritual Tabuh Rah. Saya membenarkan yadnya di Bali karena Hindu mengenal konsep Panca Yadnya diantaranya Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya dan Pitra Yadnya.

Bagi saya, masalah kenapa Khrisna menyuruh Arjuna untuk berperang? Saya menanggapi berdasarkan buku Weda abad 21. Disana dijelaskan bahwa Khrisna itu ibarat dokter bedah. Ia ingin menghilangkan sel kanker yang ada pada pasien. Jika sel kanker tidak dihilangkan, maka sel kanker yang akan membunuh pasien secara perlahan-lahan. Makanya Korawa atau Duryodana diibaratkan sel kanker yang harus dihilangkan. Jika tidak, maka mereka akan membunuh para Pandawa. tidak semua perbuatan menyakiti itu berdosa. Contohnya seorang dokter yang menyakiti pasien ketika memberi suntikan anti Rabies kepada penderita yang digigit anjing. Jika tidak disuntik atau disakiti, maka virus Rabies lah yang akan membunuh pasien. Semoga anda mengerti denga maksud saya. Dan masalah kenapa Setiap Awatara selalu membunuh musuhnya? Itu ada benarnya juga. tapi tidak semua Awatara itu membunuh musuhnya. Misalnya Buddha Awatara. Beliau tidak pernah membunuh musuhnya.

Ciri-Ciri Orang Yang Salah Menafsirkan Ajaran Hindu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekali lagi saya bukannya membela Hindu Bali. Tetapi terkadang para leluhur di Bali memiliki konsep yang sangat bagus untuk dilanjutkan pada keturunannya atau para generasinya. Makanya saya memberi judul tulisan Memetik Sisi Positif Dari Ajaran Hindu Di Bali.

Saya bukannya anti terhadap Hindu Sampradaya. Malah saya adalah seorang penganut aliran. Tetapi karena umur saya sudah dewasa dan bukan anak muda lagi yang memiliki jiwa labil disertai dengan belajar Hindu secara Komprehensif dan Kronologis, Makanya saya tidak pernah kaget melihat gemerlapnya dan mewahnya upacara di Bali. Beda dengan anak kecil atau masih muda yang baru belajar Sampradaya, mereka akan kaget jika melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang dianutnya. Makanya saya pernah membaca artikel di majalah Hindu, tapi sayangnya saya lupa edisi majalah tersebut. Disana dijelaskan Ciri-ciri orang yang salah menafsirkan ajaran Hindu.

Orang yang selalu kaget melihat gemerlapnya dan mewahnya upacara di Bali adalah salah satu ciri-ciri orang yang salah menafsirkan ajaran Hindu. Hindu boleh saja ke-India-India-an karena agama Hindu memang berasal dari India. Dengan kata lain bahwa konsep atau Filosofi ajarannya boleh dari India tapi teknis pelaksanaannya tidak harus gaya India. Kalau dalam ilmu hukum bahwa ajarannya bernama KUHP  tapi praktek teknisnya dengan KUHAP (sarjana hukum pasti mengerti hal ini) Hindu tidak melarang pelaksanaan ajarannya dengan budaya asli dimana Hindu berkembang. Karena teknis budaya bersifat relatif. Kita beragama mau mencari damai atau mencari seragam?

Selain itu, kalau kita salah menafsirkan ajaran Weda, maka bukan saja akan menjadi umat yang malas tapi juga Jumawa alias merasa paling tahu, paling pintar, dan paling benar. Mereka akan berpatokan pada Karma Marga, Jnana Marga, dan Yoga Marga yang ada dalam Bhagawadgita. Mereka tidak membaca ayat-ayat yang lain misalnya yang berbunyi hidup harus bekerja. Tanpa kerja maka hidup sehari-hari pun akan tidak mungkin. Tuhan menciptakan dunia ini atas dasar kerja. Bumi, matahari, bulan, bintang berputar tetap pada sumbunya atau jantung berdetak terus adalah karena Aku (Khrisna) selalu bekerja.

Kalau ingin belajar Lontar dan pustaka suci Hindu lainnya, kita harus siap membuang rasa gengsi, rasa ego dan harus rendah diri serta merelakan sepenuhnya kepada tuhan selaku perpanjangan tangan tuhan. Jadi, marilah kita beragama yang luhur.

Ajaran Hindu adalah ajaran yang lebih mengutamakan substansi daripada lahiriah. Pasalnya lahiriah dianggap tidak penting karena lahiriah bersifat relatif, tidak kekal, dan bisa berubah atau berbeda. Contohnya adalah hari keagamaan. Di Bali dengan India memiliki hari keagamaan yang berbeda. Di India tidak ada hari Galungan. Tapi yang dijadikan pedoman bukan nama hari keagamaannya tapi substansinya yakni perang antara kebaikan dengan kejahatan, namanya hari Wijaya Dasami. Wijaya artinya menang atau unggul. Galungan atau Dungulan juga artinya sama yakni unggul. Bagi Hindu, kulit tidak dijadikan masalah. Itulah makanya Hindu berbeda. Dan orang yang meributkan Hindu berbeda adalah orang yang belum paham pola pikir Hindu termasuk umat Hindunya sendiri.

Dalam Hindu semua itu tergantung Karma baik seseorang. Jadi umat Hindu jangan heran jika orang-orang tua Bali jaman dahulu tidak tahu agama, tidak tahu doa tapi perbuatannya jauh lebih luhur daripada orang yang hafal kitab suci. Dan memang itulah Visi dan Missi agama Hindu.

Senin, 06 April 2015

Menemukan Tuhan Dari Ajaran Hindu Di Bali. (Bagian ke 2)

Walaupun saya suka mempelajari filsafat-filsafat Hindu , namun saya benar-benar tidak mau meninggalkan ajaran leluhur dan tradisi Bali apalagi sampai menentang atau berniat ingin memerangi segala bentuk ritual yang sering dianggap bertentangan dengan Bhagwadgita. Saya harus berkata jujur dalam tulisan ini. Dulu saya paling benci dengan tradisi apa saja yang bernuansa Bali. Tapi prinsip saya ternyata salah. Ternyata benar juga apa yang disampaikan oleh sahabat saya yang tinggal di pulau Lombok. Orang semakin pintar seharusnya orang semakin tradisional. Dunia boleh saja canggih, akan tetapi kita tidak boleh mengabaikan tradisi yang diwariskan oleh leluhur kita.

Ketika saya memohon pada tetua saya untuk pergi ke India belajar tradisi India, tetua saya bertanya " Kenapa kamu berniat belajar tradisi India, sementara adat milik sendiri kamu belum sepenuhnya mampu menguasainya. Belajar adat tetangga tidak ada salahnya jika kita sudah sepenuhnya tahu tentang adat sendiri.

Apakah kamu tahu apa yang selama ini menjadi penyebab perdebatan di dunia maya? Salah satunya adalah karena kita terlalu bangga dengan ajaran milik orang luar. Sementara jiwa kita selalu bersikeras untuk menyudutkan ajaran milik sendiri dan bersikeras untuk merubah pola hidup yang diwariskan oleh leluhur kita. Dan kita selalu menuding orang Bali tidak tahu filsafat, orang Bali hanya tahu ritual, adat terlalu berat dan rumit, dan yadnya menjadi penyebab kemiskinan dan banyak orang Hindu pindah ke agama lain. Ungkapan itu adalah keliru. Mulai dari sekarang berhentilah menyudutkan keyakinan orang-orang yang berjiwa tradisional jika kita menginginkan kedamaian. Menyudutkan orang lain akan menimbulkan konflik dan perpecahan. Belajarlah menghargai tradisi orang lain, jangan merasa paling benar, belajarlah Hindu secara komprehensif dan kronologis.

Jika kita selalu menyindir orang lain, kita tidak akan menghasilkan apapun. Justru kita akan mendapatkan banyak musuh dan kita akan didebat oleh orang-orang yang pro terhadap keyakinannya yang kita lecehkan. Semut akan menggigit jika rumahnya dirusak. Daripada kita selalu menyudutkan orang lain, lebih baik kita mengasah spiritual kita dengan benar. Karena dosa yang paling berat adalah dosa yang disebabkan oleh ucapan kita yang bersifat menuding secara miring alias negatif. Kita tidak perlu bersikeras merubah orang lain agar mengikuti prinsip kita.

Mulai dari sekarang berhentilah menjelekkan pulau Bali. Selama ini sering kita baca di group FB bernuansa Hindu bahwa pulau Bali banyak hotel, remaja-remaja suka ke tempat makziat seperti diskotik dan kafe prostitusi, orang Bali tidak bisa menjaga kesucian pura seperti kasus Bule yang mesum di pura, orang Bali suka menjual tanah untuk keperluan yadnya, suka berjudi sabung ayam dengan dalih ritual. Mohon jangan berkata seperti itu karena akan memancing perdebatan dan tidak menghasilkan sesuatu.

Kalau di Bali banyak hotel, memangnya kenapa? Orang Bali yang beragama Hindu bukan saja ada di Bali. Di Amerika juga ada orang Bali yang beragama Hindu. Di Amerika juga banyak hotel, tapi kalau Shrada kita kuat, dimanapun kita berada tidak akan goyah. Apakah di Bali banyak ritual menyebabkan teroris meledakkan bomnya di Bali? Tidak juga. Di Amerika tidak ada ritual, tapi toh teroris tetap saja meledakkan bomnya di Amerika. Apakah ritual di Bali menyebabkan orang Hindu banyak pindah ke agama lain? Tidak juga. Jika benar demikian kenapa saya dan jutaan umat Hindu di Bali tidak ikut pindah agama? nah, coba camkan kata-kata saya ini.

Mediasi Antara Dua Kubu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di Bali, Hindu itu telah mengalami perpecahan dan terbagi menjadi dua kubu yang saling berbenturan. Hal itu akan anda saksikan jika anda aktif mengikuti group-group Facebook yang bernuansa Hindu. Dua kubu itu akan saling beradu argumen mempertahankan pendapatnya. Maka tak heran, jika diskusi yang awalnya biasa-biasa saja akan berujung pada perdebatan yang sangat sengit. Bahkan saling hujat antar kelompok yang sama-sama mengaku Hindu.

Kubu yang satu adalah orang-orang Bali yang masih mempertahankan adat dan tradisinya dengan konsep Panca Yadnya. Yang namanya yadnya pasti tidak lepas dari pembunuhan binatang sebagai persembahan kepada tuhan. Dan hal ini sering menjadi bahan kritikan dari kubu lainnya yang menganut aliran bernafaskan India. Kubu ini adalah orang-orang Bali yang mengambil konsep Panca Yama Brata yang salah satunya adalah Ahimsa alias tidak boleh melakukan pembunuhan dengan alasan apapun. Kubu ini biasanya etnis Bali yang telah lama tinggal di luar Bali dan sudah tentu menganut Hindu Sampradaya. Makanya kubu ini sering kaget jika melihat orang Bali lokal membunuh binatang untuk yadnya, kaget juga melihat orang Bali yang mengaku beragama Hindu tapi suka memakan daging, bahkan yadnya di Bali sering dituduh menjadi penyebab kemiskinan umat Hindu di Bali karena adat di Bali itu ribet dan mahal, dan yang paling menyakitkan adalah orang Bali disebut seperti katak dalam tempurung.

Orang Bali juga dituduh jarang melakukan meditasi dan jarang membaca Weda. Setiap saya membaca komentar-komentar panas dari dua kubu tersebut di Facebook, saya pasti menjadi mediasi diantara kedua kubu tersebut. Saya selalu bilang, konsep Panca yadnya adalah benar dan konsep Panca Yama Brata juga benar. Karena keduanya ada dalam Mindset Hindu. Walaupun terkadang dibilang berbenturan antara korban suci dengan konsep Ahimsa, itu karena kita mempelajari Hindu tidak secara komprehensif dan kronologis. Ibarat kita ke Jakarta yang menumpangi kendaraan yang berbeda. Ada yang ke Jakarta menumpangi kereta api pasti berbeda pengalamannya dengan orang yang ke Jakarta menumpangi kapal laut. Makanya mereka akan selamanya berbeda pendapat karena pengalaman naik kereta api akan mengatakan bahwa ke Jakarta itu banyak menemukan terowongan dan orang yang naik kapal laut akan mengatakan ke Jakartta itu banyak menemukan laut. Makanya perdebatan tidak akan ada habisnya. Maka dari itu, untuk menciptakan Hindu yang damai walaupun berbeda etnis maupun aliran, alangkah baiknya kita saling menghargai kelompok lain.

Karena Ahimsa itu bukan saja berarti tidak membunuh. Menghormati kelompok lain juga termasuk telah menjalankan konsep Ahimsa alias tidak membunuh. Walaupun kita menganut Hindu Sampradaya, kita tidak boleh melakukan Konfrontasi atau tidak boleh melakukan pertentangan terhadap orang-orang yang masih mempertahankan adat dan tradisinya dengan konsep Panca Yadnya. Karena tidak ada sejarah dalam penyebaran agama di Hindu, Hindu itu memakai peperangan. Itu tidak benar. Karena Hindu itu bukanlah agama Missi. Ingatlah bait-bait mantram Trisandya yang berbunyi Sarwa Prani Hitangkarah yang artinya semua mahluk harus dibahagiakan. Arti mahluk disini adalah kubu atau kelompok.

Belajar Hindu Harus Komprehensif Dan Kronologis
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dua kubu di media sosial terlalu sama-sama fanatik. Mereka bukannya memberi pencerahan tapi malah membuat generasi muda Hindu menjadi bingung. Intinya kedua pihak tidak mempelajari Hindu secara komprehensif dan kronologis. Melainkan mereka mempelajari Hindu secara acak, itu yang menjadi permasalahannya. Inilah sebabnya mengapa orang tua mengatakan " Cai Nu Cenik, De Melajah Agame, Nyanan Bise Buduh" Maksud kata Buduh disini adalah bingung atau minimal salah tafsir.

Dulu waktu saya kecil sering mendengar bahwa banyak orang-orang jaman itu memang menjadi gila setelah mempelajari agama. Apa sebab? Soalnya ajaran yang dipelajari adalah Tatwa atau filsafat yang sangat tinggi. Sementara mereka tidak mengenyam pendidikan atau paling tinggi lulusan sekolah dasar. Atau banyak juga katanya pergi bertapa ke gunung, goa, hutan, dan sebagainya. Tapi akhirnya yang diperoleh bukanlah kesaktian tapi malah tewas karena kehabisan bekal makanan. Ini karena salah menafsirkan agama.

Itu karena mereka belum mampu mengalahkan musuh dalam dirinya sendiri yakni Ahamkara atau egoisme. Dan seperti yang saya katakan tadi karena kurang komprehensif mempelajari Hindu. Dalam sejarah perjalanan Hindu mengalami proses tahafan seperti jaman Brahmana kemudian pengaruh ajaran Bairawa. Dan terakhir Upanisad. Kalau kita mempelajari semuanya maka kita tidak akan fanatik, tidak akan heran dan tidak akan egois dengan pendapat sendiri. Mau menempuh jalan ritual atau jalan meditasi, itu tergantung kemampuan tingkat spiritual kita masing-masing.

Ajaran yoga atau pengendalian diri seperti amarah, nafsu, ambisius, dengki, egois, rakus, menyakiti, iri, dan lain-lain, itulah ajaran yang tertinggi. Sedangkan jalan ritual yang berbentuk phisik atau masih berupa benda adalah ajaran untuk orang awam yang tingkat spiritualnya masih kelas bawah. Tapi sama-sama sah sesuai tingkatan orang masing-masing sepanjang dilakukan dengan tulus, tekun dan serius. Inilah makanya dalam Bhagawadgita ada ucapan " Jalan manapun yang kau tempuh akan sampai kepadaku sepanjang dilakukan dengan tulus hati. Sekaligus ajaran inilah yang menjadi cikal-bakal toleransinya Hindu.

Walaupun saya tahu sedikit masalah sejarah proses perjalanan agama Hindu, tapi saya tetap cinta dan taat melakukan cara-cara beragama tradisional. Asalkan beragama tradisional jangan sampai menyusahkan umat.

Sabtu, 14 Maret 2015

Kenapa Di Bali Harus Ada Ogoh-Ogoh Ketika Menyambut Nyepi?

Dalam sebuah group Facebook "Paguyuban Hindu" ada salah seorang pengguna akun Facebook yang berinisial KR melontarkan sebuah pertanyaan "Apakah Ogoh-Ogoh ada dasar filsafat Literaturnya, Weda, Lontar, atau Refrensi yang Akuntable? Apakah Ogoh-Ogoh boleh dihilangkan? Apa yang seharusnya dilakukan untuk menyambut hari raya Nyepi?

Menurut saya, dasar sastra yang menyebut Ogoh-Ogoh memanglah tidak ada. Tapi yang ada hanyalah mengusir Bhutakala. Dan mengusir Bhutakala model Hindu tidaklah sama caranya dengan model agama lain dalam mengusir setan. Kalau agama lain mengusir setan dengan cara kasar yakni dilempar. Tapi kalau cara Hindu adalah dengan menyenangkan atau memberi Segehan atau Caru. Sementara Ogoh-Ogoh adalah Bhutakala yang Personofikasi atau dibuatkan wujud.

Jika Ogoh-Ogoh dihilangkan, itu artinya sama dengan menghapus Hindu karena itu adalah hiburan keagamaan. Tapi yang harus selalu ada dalam menyambut Nyepi adalah penyucian desa dan rumah dengan api. Tujuannya untuk menetralisir hal-hal negatif ataupun kekotoran.

Kenapa di Bali harus ada Ogoh-Ogoh ketika menyambut Nyepi? Karena Ogoh-Ogoh di Bali adalah simbol Bhutakala atau sifat negatif manusia. Makanya Bhutakala itu tidak dihilangkan dengan cara kasar tetapi dengan cara halus. Denga cara memberikan Caru atau Segehan yang disebut Tawur Kesanga agar Bhutakala itu senang hatinya. Ketika hatinya sudah senang maka beliau akan berubah menjadi Dewa menurut konsep Hindu Di Bali. Ketika beliau telah berubah menjadi Dewa, maka kita akan tenang melakukan Catur Brata Penyepian yaitu empat hal yang dilarang saat Nyepi diantaranya tidak boleh menyalakan api. Dan api disini bukan saja berarti api, tetapi juga berarti api amarah yang ada di dalam diri manusia dan api hawa nafsu yang disebut Sadripu (anda bisa baca bagian dari Sadripu di topik lain). Yang kedua tidak boleh bekerja, ketiga tidak boleh bepergian, dan keempat adalah tidak boleh bersenang-senang.

Saya sangat setuju dengan adanya Ogoh-Ogoh di malam Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Asalkan Ogoh-Ogoh Itu berbentuk Bhutakala seperti Raksasa, Celuluk, Rangda dan lain-lain. Asalkan Ogoh-Ogoh itu tidak menyimpang dari tema Bhutakala. Karena jaman sekarang itu kreatifitas seseorang hampir melewati batas norma kemanusiaan yang melanggar undang-undang Pornografhy. Misalnya membuat ogoh-ogoh yang bersifat Porno dengan memperlihatkan alat kelamin pada ogoh-Ogoh. Kalau Ogoh-Ogoh sampai dibuat ada kelaminnya, itu oknum perorangan yang tidak mengerti filsafat agama, etika, dan ritual dan juga tidak memikirkan dampak negatifnya. Ogoh-Ogoh yang menampilkan hal-hal porno sangatlah bertentangan dengan undang-undang Pornografi dan juga bertentangan dengan ajaran agama.

Minggu, 30 November 2014

Memahami Konsep Hindu Di Bali.

Hindu dalam tradisi Bali mengenal konsep memanusiakan alam atau lingkungan dan juga memanusiakan tuhan. Makanya orang-orang yang tidak paham dengan Hindu tradi Bali, mereka pasti akan mengatakan bahwa Hindu di Bali adalah penyembah mahluk halus, setan, iblis, menyembah pohon, batu, dan lain-lain.

Konsep memanusiakan alam dalam tradisi Bali misalnya pohon dihiasi dengan pakaian seperti manusia mengenakan pakaian. Pohon juga diberikan hidangan seperti kopi dan kue setiap pagi. Hal itu mungkin disebabkan karena manusia minum kopi setiap pagi.

Hindu di Bali juga mengenal konsep Wyapi Wyapaka yang artinya tuhan ada dimana saja termasuk ada di pohon, batu, dan lain-lain. Meskipun Hindu di Bali dituduh menyembah pohon dan batu, tapi Hindu di Bali tetap memuja Hyang Widhi.

Jika dilihat dari segi konsepnya, Hindu di Bali diperbolehkan makan daging. Pasalnya di Bali menganut paham Siwa Sidanta dan Bairawa. Karena yadnya di Bali pasti dilengkapi dengan persembahan daging binatang.

Penganut Hindu di Bali selalu mengenang jasa seorang Rsi yang dianggap telah menyelamatkan pulau Bali dan agama Hindu di Bali setelah hancurnya Hindu di kerajaan Majapahit. Beliau adalah Mpu Kuturan. Dinilai dari pola pikirnya, Mpu Kuturan memiliki jiwa toleransi yang sangat tinggi. Hal itu terbukti dari adanya Pelinggih Dalem Mekah yang ada di pura Uluwatu. Walaupun demikian, itu bukan berarti Mpu Kuturan datang ke Bali untuk menyebarkan ajaran Islam seperti yang diberitakan di media belakangan ini.

Kenapa saya katakan demikian, karena dalam wejangannya tidak ada yang menyebutkan tentang bahasa dan doa-doa Muslim. Mpu Kuturan datang ke Bali sebenarnya untuk memperbaiki kualitas agama Hindu pada saat itu. Dengan kedatangan beliau, semua sekte-sekte Hindu yang ada di Bali berhasil disatukan. Semua itu dibahas dan diputuskan di pura Samuan Tiga.

Benarkah ritual dan kegiatan adat di Bali menyebabkan orang Hindu di Bali banyak yang pindah ke agama lain? Menurut saya, sebenarnya yang menjadi penyebabnya adalah sebagian orang Hindu di Bali masih memiliki pola pikir yang salah seperti prinsip bahwa semua agama itu sama. Hal itulah yang menjadi pemicu orang Hindu di Bali sangat gampang dikonversi oleh Misionaris dari umat lain.

Tudingan miring yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tak suka pada Hindu Bali adalah yadnya dalam tradisi Bali itu mahal dan rumit, terlalu banyak mengambil cuti kerja karena ada kegiatan ritual keagamaan, dan orang Bali memiliki toleransi yang berlebihan kepada penduduk pendatang.

Jumat, 01 Agustus 2014

Penyebab Orang Bali Jarang Membaca Weda.

Mengapa ada sebagian orang Hindu di Bali  tidak suka membaca Weda? Setelah saya telusuri dengan cermat, ternyata penyebabnya adalah Weda tidak sama dengan kitab suci agama lain yang hanya berupa satu buku. Weda sangat luas dan sudah dijabarkan oleh para Maharsi, Sulinggih, Pujangga, ke dalam buku dengan judul tersendiri tapi sudah merangkum semua isi Weda. Selain itu, Hindu di Bali lebih mengutamakan praktek perbuatan baik daripada teori seperti menghafal ayat-ayat, dan lain-lain. Dimana inti ajaran Weda sudah ditransformasikan ke dalam cerita rakyat Bali dengan bahasa yang mudah sehingga walaupun umat Hindu di Bali maupun di India tidak tahu ayat suci, tapi kepribadiannya jauh lebih mulia daripada agama lain yang sangat hafal pada ayat-ayat suci, inilah sebenarnya tujuan inti agama. Praktek inilah justru yang lebih penting daripada teori.

Perlu diketahui bahwa teori itu tujuannya untuk kepentingan Sconder atau bersifat duniawi. Misalnya untuk guru kepada murid, untuk diskusi, untuk menjawab pertanyaan  dari agama lain. Sedangkan tujuan praktek lebih utama atau Primer yakni kepada tuhan. Sementara tuhan tidak perlu teori karena tuhan maha tahu semua teori agama, tahu segala bahasa. Jadi kita tidak perlu menghafal ayat suci atau bahasa Sanskerta kepada tuhan yang tahu segalanya. Tuhan hanya perlu kita berbuat baik. Justru dengan hafal menjurus kita menjadi sombong yang justru akan menjauhkan kita kepada tuhan. Walaupun Hindu sering dilecehkan agama lain, tapi tuhan tidak pernah melecehkan umatnya. Tapi teori memang perlu untuk berbagi ilmu kepada teman-teman sedharma.

Selasa, 29 Juli 2014

Penyebab Pedagang Bali Kalah Bersaing Dengan Pendatang.

Dari dulu saya selalu berpikir tentang kenapa pedagang Bali selalu kalah bersaing dengan pendatang yang tinggal di Bali? Misalnya setiap pagi saya ke pasar, saya pasti melihat pedagang dari jawa yang berjualan daging ayam selalu dikerumuni pembeli. Sementara pedagang dari Bali yang berjualan daging babi selalu sepi pembeli. Bukan hanya itu saja. pedagang dari jawa yang berkeliling menjual alat-alat dapur seperti piring, gelas, dan lain-lain, selalu habis terjual. Apakah rahasianya? Dan apakah orang Jawa yang berjualan di Bali memakai Pelet?

Ternyata setelah saya pikir-pikir, rahasianya adalah orang Jawa yang berjualan di Bali menggunakan strategi harga murah pada setiap konsumen. Contohnya " warung makan " yang menjual sate kambing dan gulai kambing milik pedagang dari Jawa yang mayoritas beragama Muslim, harganya lebih murah dibandingkan dengan harga makanan Lawar Bali dan babi guling milik pedagang Bali. Mungkin itulah salah satu  penyebabnya kenapa orang Bali selalu kalah bersaing dengan pendatang.

Tapi jika dipikir lebih dalam lagi, penyebab harga nasi babi guling lebih mahal mungkin harga babi ternak sudah mahal. Untuk itu, marilah kita mencari solusinya bersama-sama. Apakah kita harus mengimport babi dari Sumatera agar harganya lebih murah? Lalu bagaimana dengan dampak ekonomi masyarakat Bali terutama para peternak babi? Ah, saya semakin bingung.

Nasib orang Bali memang malang. Warung-warung kecil di tengah perkotaan masyarakat Bali sudah diserbu dengan pesaing-pesaing dari luar seperti Supermarket dan berbagai Mall. Dulu bahkan pengusaha-pengusaha di Bali membuat persatuan koperasi yang berlabel Bali untuk merebut pasar bakso dan sate dari tangan pendatang. Toh, akhirnya kalah juga. Waktu itu, bahkan dibuatkan Awig-Awig atau peraturan tentang Non Bali tidak boleh berjualan di pura saat ada Piodalan atau persembahyangan. Tapi hasilnya tetap nihil.

Sementara Bapak Panca Putra ketika dikonfirmasi lewat pesan singkat, beliau mengatakan bahwa soal kalah bersaing itu bukan soal harga. Ini juga berhubungan dengan perbedaan watak antara orang Bali Hindu dengan watak pendatang yang mayoritas beragama Islam. Orang Islam dilarang makan daging babi. Sedangkan orang Bali Hindu kebanyakan bebas makan daging . Jika orang Bali Hindu juga punya konsep makanan haram dan halal seperti orang muslim, pasti pedagang Muslim akan kalah bersaing dengan pedagang Bali. Tapi Hindu adalah agama spiritual, bukan berpolitik.

Windia Nanda juga berkomentar dalam Facebook bahwa di Bali khususnya di kota-kota sangat banyak terdapat Masjid, Gereja, Caffe, Bungalaw, Bule, dan lain-lain. Orang Bali yang beragama Hindu terlalu bertoleransi pada pendatang sehingga Bali mudah digerogoti. Buktinya wanita Bali yang beragama Hindu dipaksa memakai Jilbab di tempat kerjanya oleh majikannya. Selain itu, patung Wisnu dibongkar dan diganti dengan patung Soekarno di kota Tabanan. Bali juga dipenuhi dengan Paud dan sekolah-sekolah yang didirikan oleh agama lain.

Untuk membentengi Bali, kita harus melestarikan adat dan budaya Bali. Karena tanpa dibentengi dengan ketegasan dari masyarakat dan pemerintah, maka dengan ketegasan dari seluruh aspek ini, agama lain akan berpikir untuk memaksakan sesuatu yang diinginkan.

Sementara di Group Facebook "Paguyuban Hindu" hal itu juga banyak dikeluhkan oleh orang-orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat Bali. Coba lihat di halaman luar di pura Uluwatu. Banyak orang Bali yang berbelanja di warung milik pendatang seperti misalnya pada pedagang jagung bakar. Selain itu, di pasar ikan Kedonganan-Denpasar, banyak pedagang dari Madura yang mengais rejeki disana. Sedangkan pedagang dari Bali selalu sepi pembeli.Apa kira-kira yang menjadi penyebabnya?

Berikut ini adalah kiat-kiat yang harus dilakukan untuk pedagang Bali diantaranya warung atau tempat berjualan harus bersih, makanan yang dijual harus memiliki cita rasa yang lezat, ramah terhadap pembeli karena pembeli adalah raja. Bila perlu pedagang Bali harus memakai pakaian adat Madya dengan ciri khas telinga dihiasi bunga Kamboja. Selain itu, warung atau tempat berjualan harus memakai papan nama seperti misalnya warung Hindu atau berisi tulisan " menyediakan sate kambing dengan bumbu Bali asli. Atau lalapan Bali memakai sambal mentah ala Bali. Sebenarnya cukup banyak masakan Bali yang patut dikembangkan.


Minggu, 08 Juni 2014

Penyebab Terjadinya Perdebatan Dalam Diskusi Di Group Facebook Hindu.

Kenapa kita sering membaca perdebatan-perdebatan yang sangat sengit dalam sebuah Postingan atau dalam sebuah komentar di group Facebook terutama di group yang bernuansa Hindu? Mungkin ini adalah beberapa faktor yang menjadi penyebabnya diantaranya adalah karena latar belakang yang menjadi anggota kebanyakan berbeda etnis maupun berbeda aliran atau sekte. Masing-masing anggota suka berdebat karena mempertahankan prinsipnya, terkadang memiliki egois yang sangat tinggi, merasa paling benar, prinsip orang lain selalu dianggap salah, dan lain-lain.

Selain itu, dalam sebuah group bernuansa Hindu sudah pasti ada pengguna akun dari Non Hindu yang sengaja menyamar menjadi pengguna akun beragama Hindu. Mereka sengaja membuat Postingan atau komentar yang bersifat Provocatif agar Hindu itu menjadi pecah. Misalnya kita sering menjumpai ada oknum yang sengaja membuat Postingan seakan-akan melecehkan Haree Khrisna. Atau juga sebaliknya, ada oknum yang sengaja membuat Postingan seakan-akan mem-Blacklist Bali atau menjelek-jelekkan adat dan budaya orang Bali.

Hal itu sering saya jumpai ketika saya masih menjadi anggota di group Bangkitnya Hindu. Saya hampir saja ikut termakan perdebatan dari dua buah kubu yang saling menjatuhkan. Untuk menghindari pertengkaran, saya kemudian sengaja keluar dari group tersebut. Karena jika kita sebagai penekun Hindu sejati seharusnya saling menghargai Hindu walaupun berbeda etnis maupun berbeda sekte. Jika kita saling menghargai antar sesama Hindu, maka sudah dipastikan Hindu tak mungkin akan pecah. Karena jati diri orang Hindu adalah suka menerima perbedaan serta menghormati budaya dan kearifan lokal.

Sejak saya keluar dari group itu, hidup saya menjadi lebih nyaman karena bisa belajar Hindu melalui majalah atau koran, melalui buku, melalui Internet, mendengarkan Dharma Wacana, dan lain-lain. Karena disana tidak ada perdebatan, pertengkaran, maupun saling hujat. Karena belajar Hindu yang benar adalah dengan cara Kronologis dan Komprehensif.

Opini Dari Bpk Panca Putra.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sementara Bpk Panca Putra ketika dikonfirmasi lewat pesan singkat menjelaskan bahwa itu semua disebabkan oleh reformasi agama dimana tadinya kita semua buta agama. Negara kita juga begitu. Awal reformasi terjadi Eforia dan gegap gempita. Segala sesuatu dianggap salah dan dinilai dengan hak asazi manusia. Kalau kita ingin mempelajari agama seharusnya secara komprehensif dan dari segala segi. Juga secara berurutan maka kita tidak akan kaget seperti itu. Ibarat membaca buku maka kita harus membaca bab per bab secara berurutan. Tidak bisa sekarang membaca bab 1, besok membaca bab 10. Supaya tidak bingung karena terkesan Kontradiktif satu sama lain.

Menilai ajaran agama harus proforsional. Karena setiap buku memiliki misi tertentu dan metodologi berbeda walaupun untuk tujuan yang sama. Karena kita baru seperti terbuka kran agamanya sehingga ibarat orang kelaparan tiba-tiba melihat makanan, maka tanpa banyak pikir, semua dilahap. Padahal masing-masing makanan punya peruntukan tertentu. Akhirnya walaupun seseorang itu banyak membaca buku, mereka belum tentu paham terhadap maksud dari buku tersebut.