Kamis, 05 Mei 2016

Hindu Mengajarkan Ahimsa, Tetapi Kenapa Ada Korban Binatang?

Akhir-akhir ini saya baca di sosial media tentang perdebatan antara penganut Hindu tradisi Bali dengan penganut Hindu Sampradaya. Penganut Hindu Bali merasa cemas dengan kehadiran Hindu Sampradaya di Bali. Pasalnya kehadiran Hindu Sampradaya dianggapnya merusak tatanan Hindu di Bali. Penganut Hindu Bali juga merasa takut jika nanti budaya Bali diganti dengan Hindu ala India meskipun Hindu bersumber dari India. Hindu Bali sangat cemas melihat orang-orang Bali melakukan Aginihotra, Japamantram, dan ritual memandikan patung Ganesha dengan susu Gee. Padahal ritual tersebut sumbernya dari Weda. Kenapa harus cemas.

Tapi di sisi lain, penganut Hindu Sampradaya juga merasa cemas jika Hindu tidak mengalami kemajuan. Pasalnya selama ini Hindu Bali dilihatnya hanya berkutat pada Upakara saja. Sedangkan yang mempelajari Tatwa di Bali hanya sebagian saja. Selain itu, adat di Bali dianggapnya sangat memberatkan umat. Hindu Sampradaya khawatir jika Hindu Bali dikonversi oleh agama lain. Ritual tradisi di Bali dianggapnya sangat mahal dan boros. Setiap persembahan pasti dihiasi dengan korban binatang yang harganya sangat mahal. Selain harganya mahal, Hindu Bali juga melakukan pembunuhan terhadap binatang. Padahal dalam ajaran Hindu ada konsep Ahimsa alias tidak boleh membunuh mahluk hidup dengan alasan apapun.

Yang namanya kelompok apapun juga pasti memiliki pembenaran jika prinsip kelompoknya dikritik oleh kelompok lain. Hindu Bali di sosial media yang saya baca mengatakan bahwa jika benar Hindu mengenal konsep Ahimsa lalu kenapa Khrisna menganjurkan pada Arjuna untuk berperang? Dan kenapa setiap Awatara yang menjelma ke dunia selalu melakukan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya? Apa salahnya jika orang Bali menghaturkan babi guling dalam ritualnya? Bukankah dalam Bhagawadgita dijelaskan bahwa apapun yang engkau persembahkan kepada ku, aku akan menerimanya asalkan dengan hati tulus. Bukankah dalam salah satu lontar di Bali dijelaskan bahwa tujuan tuhan menciptakan hewan-hewan untuk dijadikan persembahan?

Tapi menurut saya, Hindu bersifat menerima budaya dan kearifan lokal. Makanya Hindu membenarkan bahwa ritual yang mempersembahkan daging binatang dibenarkan. Karena Hindu itu beranekaragam. Ada yang membenarkan melakukan persembahan berupa darah dan daging binatang seperti penganut paham Siwa Siddhanta atau yang lebih sering disebut Hindu Bali. Ada juga sama sekali yang tidak membenarkan membunuh apalagi mengkonsumsi daging binatang seperti yang diterapkan oleh Hindu Sampradaya seperti Hare Khrisna, Ananda Marga, dan sebagainya.

Menurut hemat saya, saya bukannya bermaksud  membela kelompok manapun karena saya adalah penekun Hindu dan penekun filsafat. Tetapi saya juga menghormati tradisi-tradisi Hindu dari etnis manapun. Karena Hindu itu satu walaupun berbeda cara menuju tuhan. Mohon sesama Hindu jangan saling menghujat. Ingat, kita itu adalah agama Minoritas. Seharusnya kita bersatu dalam artian kita harus saling menghormati dan jangan membuat perpecahan. Boleh saja melakukan ritual asalkan dengan catatan jangan karena beryadnya, kemudian kita memiliki banyak hutang karena biaya Yadnya itu mahal dan boros, jangan sampai menjual tanah warisan untuk beryadnya, dan jangan melakukan perjudian di dalam pura ketika ada Piodalan kecuali ritual Tabuh Rah. Saya membenarkan yadnya di Bali karena Hindu mengenal konsep Panca Yadnya diantaranya Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya dan Pitra Yadnya.

Bagi saya, masalah kenapa Khrisna menyuruh Arjuna untuk berperang? Saya menanggapi berdasarkan buku Weda abad 21. Disana dijelaskan bahwa Khrisna itu ibarat dokter bedah. Ia ingin menghilangkan sel kanker yang ada pada pasien. Jika sel kanker tidak dihilangkan, maka sel kanker yang akan membunuh pasien secara perlahan-lahan. Makanya Korawa atau Duryodana diibaratkan sel kanker yang harus dihilangkan. Jika tidak, maka mereka akan membunuh para Pandawa. tidak semua perbuatan menyakiti itu berdosa. Contohnya seorang dokter yang menyakiti pasien ketika memberi suntikan anti Rabies kepada penderita yang digigit anjing. Jika tidak disuntik atau disakiti, maka virus Rabies lah yang akan membunuh pasien. Semoga anda mengerti denga maksud saya. Dan masalah kenapa Setiap Awatara selalu membunuh musuhnya? Itu ada benarnya juga. tapi tidak semua Awatara itu membunuh musuhnya. Misalnya Buddha Awatara. Beliau tidak pernah membunuh musuhnya.

Ciri-Ciri orang Yang Tidak Mengerti Kearifan Lokal.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekali lagi saya bukannya membela kelompok manapun karena saya adalah perangkul semua Hindu. Tetapi terkadang para leluhur di Bali memiliki konsep yang sangat bagus untuk dilanjutkan pada keturunannya atau para generasinya. 

Saya sangat menghormati Hindu Sampradaya dan saya juga menghormati Hindu tradisi Bali. Sesama Hindu sudah seharusnya tidak saling membenci Karena sifat membenci adalah bukan jati diri penekun spiritual Hindu. Sekali lagi saya katakan bahwa saya adalah seorang pendukung sampradaya tetapi saya  juga menghormati tradisi Hindu di Bali. Tetapi karena umur saya sudah dewasa dan bukan anak muda lagi yang memiliki jiwa labil disertai dengan belajar Hindu secara Komprehensif dan Kronologis, Makanya saya tidak pernah kaget melihat gemerlapnya dan mewahnya upacara di Bali. Beda dengan anak kecil atau masih muda yang baru belajar Weda, mereka akan kaget jika melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang dianutnya. Makanya saya pernah membaca artikel di majalah Hindu, tapi sayangnya saya lupa edisi majalah tersebut. Disana dijelaskan Ciri-ciri orang yang tidak mengerti kearifan lokal

Orang yang selalu kaget melihat gemerlapnya dan mewahnya upacara di Bali adalah salah satu ciri-ciri orang yang tidak mengerti kearifan lokal. Hindu boleh saja ke-India-India-an karena agama Hindu memang berasal dari India. Dengan kata lain bahwa konsep atau Filosofi ajarannya boleh dari India tapi teknis pelaksanaannya tidak harus gaya India. Kalau dalam ilmu hukum bahwa ajarannya bernama KUHP  tapi praktek teknisnya dengan KUHAP (sarjana hukum pasti mengerti hal ini) Hindu tidak melarang pelaksanaan ajarannya dengan budaya asli dimana Hindu berkembang. Karena teknis budaya bersifat relatif. Kita beragama mau mencari damai atau mencari seragam?

Selain itu, kalau kita salah menafsirkan ajaran Weda, maka bukan saja akan menjadi umat yang malas tapi juga Jumawa alias merasa paling tahu, paling pintar, dan paling benar. Mereka akan berpatokan pada Karma Marga, Jnana Marga, dan Yoga Marga yang ada dalam Bhagawadgita. Mereka tidak membaca ayat-ayat yang lain misalnya yang berbunyi hidup harus bekerja. Tanpa kerja maka hidup sehari-hari pun akan tidak mungkin. Tuhan menciptakan dunia ini atas dasar kerja. Bumi, matahari, bulan, bintang berputar tetap pada sumbunya atau jantung berdetak terus adalah karena Aku (Khrisna) selalu bekerja.

Kalau ingin belajar Lontar dan pustaka suci Hindu lainnya, kita harus siap membuang rasa gengsi, rasa ego dan harus rendah diri serta merelakan sepenuhnya kepada tuhan selaku perpanjangan tangan tuhan. Jadi, marilah kita beragama yang luhur.

Ajaran Hindu adalah ajaran yang lebih mengutamakan substansi daripada lahiriah. Pasalnya lahiriah dianggap tidak penting karena lahiriah bersifat relatif, tidak kekal, dan bisa berubah atau berbeda. Contohnya adalah hari keagamaan. Di Bali dengan India memiliki hari keagamaan yang berbeda. Di India tidak ada hari Galungan. Tapi yang dijadikan pedoman bukan nama hari keagamaannya tapi substansinya yakni perang antara kebaikan dengan kejahatan, namanya hari Wijaya Dasami. Wijaya artinya menang atau unggul. Galungan atau Dungulan juga artinya sama yakni unggul. Bagi Hindu, kulit tidak dijadikan masalah. Itulah makanya Hindu berbeda. Dan orang yang meributkan Hindu berbeda adalah orang yang belum paham pola pikir Hindu termasuk umat Hindunya sendiri.

Umat Hindu dididik untuk bermoral, beretika, dan toleran kepada orang lain. Makanya jangan heran kalau sebagian besar umat Hindu tidak tahu doa ini atau doa itu. Karena doa bisa menggunakan bahasa apa saja dengan prinsip Hindu bahwa tuhan itu maha tahu. Dalam Hindu semua itu tergantung Karma baik seseorang. Jadi umat Hindu jangan heran jika orang-orang tua Bali jaman dahulu tidak tahu agama, tidak tahu doa tapi perbuatannya jauh lebih luhur daripada orang yang hafal kitab suci. Dan memang itulah Visi dan Missi agama Hindu. Itulah prinsip Hindu yang khas yakni menghargai perbedaan. Ada orang yang cepat konsentrasi ketika melihat gambar dewa-dewa. Tapi ada juga yang cepat konsentrasi hanya ketika melihat batu yang bentuknya aneh. Semuanya sah dalam Hindu dan inilah yang disebut dengan istilah Atmanastuti dalam konsep Hindu.

Kalau anda pernah membaca buku yang berjudul "Apakah Saya Orang Hindu" yang ditulis oleh Ed. Visvanathan yang aslinya bahasa Inggris pasti anda akan tahu kelebihan yang paling utama dan sangat prinsip dari pola pikir Hindu dengan agama lain adalah Hindu sangat menghargai perbedaan pendapat. Conthnya Buddha yang jelas-jelas tidak mengakui otoritas Weda dan mengkritik Weda tapi diajak hidup berdampingan oleh Hindu di India. Seharusnya pola pikir diskriminasi, yang tidak toleran, yang eksklusif itu harus dikritik karena tidak cocok dengan kehidupan masa kini. Karena di jaman sekarang kita tidak mungkin hidup menyendiri hanya satu agama saja yang memaksa harus menyamakan cara berpikir agama orang lain.
 

Senin, 06 April 2015

Menemukan Tuhan Dari Ajaran Hindu Di Bali.

Walaupun saya suka mempelajari filsafat-filsafat Hindu , namun saya benar-benar tidak mau meninggalkan ajaran leluhur dan tradisi Bali apalagi sampai menentang atau berniat ingin memerangi segala bentuk ritual yang sering dianggap bertentangan dengan Bhagwadgita. Saya harus berkata jujur dalam tulisan ini. Dulu saya paling benci dengan tradisi apa saja yang bernuansa Bali. Tapi prinsip saya ternyata salah. Ternyata benar juga apa yang disampaikan oleh sahabat saya yang tinggal di pulau Lombok. Orang semakin pintar seharusnya orang semakin tradisional. Dunia boleh saja canggih, akan tetapi kita tidak boleh mengabaikan tradisi yang diwariskan oleh leluhur kita.

Dulu ketika saya ingin menerapkan tradisi India di Bali, tetua saya bertanya " Kenapa kamu berniat belajar tradisi India, sementara adat milik sendiri kamu belum sepenuhnya mampu menguasainya. Belajar adat tetangga tidak ada salahnya jika kita sudah sepenuhnya tahu tentang adat sendiri.

Apakah kamu tahu apa yang selama ini menjadi penyebab perdebatan di dunia maya? Salah satunya adalah karena kita terlalu bangga dengan ajaran milik orang luar. Sementara jiwa kita selalu bersikeras untuk menyudutkan ajaran milik sendiri dan bersikeras untuk merubah pola hidup yang diwariskan oleh leluhur kita. Dan kita selalu menuding orang Bali tidak tahu filsafat, orang Bali hanya tahu ritual, adat terlalu berat dan rumit, dan yadnya menjadi penyebab kemiskinan dan banyak orang Hindu pindah ke agama lain. Ungkapan itu adalah keliru. Untuk mengkritik tradisi orang lain yang dianggap kurang wajar, tidak begitu caranya. Gunakanlah kalimat yang pas dan halus.  Mulai dari sekarang berhentilah menyudutkan keyakinan orang-orang yang berjiwa tradisional jika kita menginginkan kedamaian. Menyudutkan orang lain akan menimbulkan konflik dan perpecahan. Belajarlah menghargai tradisi orang lain, jangan merasa paling benar, belajarlah Hindu secara komprehensif dan kronologis.

Jika kita selalu menyindir orang lain, kita tidak akan menghasilkan apapun. Justru kita akan mendapatkan banyak musuh dan kita akan didebat oleh orang-orang yang pro terhadap keyakinannya yang kita lecehkan. Semut akan menggigit jika rumahnya dirusak. Daripada kita selalu menyudutkan orang lain, lebih baik kita mengasah spiritual kita dengan benar. Karena dosa yang paling berat adalah dosa yang disebabkan oleh ucapan kita yang bersifat menuding secara miring alias negatif. Kita tidak perlu bersikeras merubah orang lain agar mengikuti prinsip kita.

Mulai dari sekarang berhentilah menjelekkan pulau Bali. Selama ini sering kita baca di group FB bernuansa Hindu bahwa pulau Bali banyak hotel, remaja-remaja suka ke tempat makziat seperti diskotik dan kafe prostitusi, orang Bali tidak bisa menjaga kesucian pura seperti kasus Bule yang mesum di pura, orang Bali suka menjual tanah untuk keperluan yadnya, suka berjudi sabung ayam dengan dalih ritual. Mohon jangan berkata seperti itu karena akan memancing perdebatan dan tidak menghasilkan sesuatu.

Kalau di Bali banyak hotel, memangnya kenapa? Orang Bali yang beragama Hindu bukan saja ada di Bali. Di Amerika juga ada orang Bali yang beragama Hindu. Di Amerika juga banyak hotel, tapi kalau Shrada kita kuat, dimanapun kita berada tidak akan goyah. Apakah di Bali banyak ritual menyebabkan teroris meledakkan bomnya di Bali? Tidak juga. Di Amerika tidak ada ritual, tapi toh teroris tetap saja meledakkan bomnya di Amerika. Apakah ritual di Bali menyebabkan orang Hindu banyak pindah ke agama lain? Tidak juga. Jika benar demikian kenapa saya dan jutaan umat Hindu di Bali tidak ikut pindah agama? nah, coba camkan kata-kata saya ini.

Mediasi Antara Dua Kubu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di Bali, Hindu itu telah mengalami perpecahan dan terbagi menjadi dua kubu yang saling berbenturan. Hal itu akan anda saksikan jika anda aktif mengikuti group-group Facebook yang bernuansa Hindu. Dua kubu itu akan saling beradu argumen mempertahankan pendapatnya. Maka tak heran, jika diskusi yang awalnya biasa-biasa saja akan berujung pada perdebatan yang sangat sengit. Bahkan saling hujat antar kelompok yang sama-sama mengaku Hindu.

Kubu yang satu adalah orang-orang Bali yang masih mempertahankan adat dan tradisinya dengan konsep Panca Yadnya. Yang namanya yadnya pasti tidak lepas dari pembunuhan binatang sebagai persembahan kepada tuhan. Dan hal ini sering menjadi bahan kritikan dari kubu lainnya yang menganut aliran bernafaskan India. Kubu ini adalah orang-orang Bali yang mengambil konsep Panca Yama Brata yang salah satunya adalah Ahimsa alias tidak boleh melakukan pembunuhan dengan alasan apapun. Kubu ini biasanya etnis Bali yang telah lama tinggal di luar Bali dan sudah tentu menganut Hindu Sampradaya. Makanya kubu ini sering kaget jika melihat orang Bali lokal membunuh binatang untuk yadnya, kaget juga melihat orang Bali yang mengaku beragama Hindu tapi suka memakan daging, bahkan yadnya di Bali sering dituduh menjadi penyebab kemiskinan umat Hindu di Bali karena adat di Bali itu ribet dan mahal, dan yang paling menyakitkan adalah orang Bali disebut seperti katak dalam tempurung.

Orang Bali juga dituduh jarang melakukan meditasi dan jarang membaca Weda. Setiap saya membaca komentar-komentar panas dari dua kubu tersebut di Facebook, saya pasti menjadi mediasi diantara kedua kubu tersebut. Saya selalu bilang, konsep Panca yadnya adalah benar dan konsep Panca Yama Brata juga benar. Karena keduanya ada dalam Mindset Hindu. Walaupun terkadang dibilang berbenturan antara korban suci dengan konsep Ahimsa, itu karena kita mempelajari Hindu tidak secara komprehensif dan kronologis. Ibarat kita ke Jakarta yang menumpangi kendaraan yang berbeda. Ada yang ke Jakarta menumpangi kereta api pasti berbeda pengalamannya dengan orang yang ke Jakarta menumpangi kapal laut. Makanya mereka akan selamanya berbeda pendapat karena pengalaman naik kereta api akan mengatakan bahwa ke Jakarta itu banyak menemukan terowongan dan orang yang naik kapal laut akan mengatakan ke Jakartta itu banyak menemukan laut. Makanya perdebatan tidak akan ada habisnya. Maka dari itu, untuk menciptakan Hindu yang damai walaupun berbeda etnis maupun aliran, alangkah baiknya kita saling menghargai kelompok lain.

Karena Ahimsa itu bukan saja berarti tidak membunuh. Menghormati kelompok lain juga termasuk telah menjalankan konsep Ahimsa alias tidak membunuh. Walaupun kita menganut Hindu Sampradaya, kita tidak boleh melakukan Konfrontasi atau tidak boleh melakukan pertentangan terhadap orang-orang yang masih mempertahankan adat dan tradisinya dengan konsep Panca Yadnya. Karena tidak ada sejarah dalam penyebaran agama di Hindu, Hindu itu memakai peperangan. Itu tidak benar. Karena Hindu itu bukanlah agama Missi. Ingatlah bait-bait mantram Trisandya yang berbunyi Sarwa Prani Hitangkarah yang artinya semua mahluk harus dibahagiakan. Arti mahluk disini adalah kubu atau kelompok.

Belajar Hindu Harus Komprehensif Dan Kronologis
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dua kubu di media sosial terlalu sama-sama fanatik. Mereka bukannya memberi pencerahan tapi malah membuat generasi muda Hindu menjadi bingung. Intinya kedua pihak tidak mempelajari Hindu secara komprehensif dan kronologis. Melainkan mereka mempelajari Hindu secara acak, itu yang menjadi permasalahannya. Inilah sebabnya mengapa orang tua mengatakan " Cai Nu Cenik, De Melajah Agame, Nyanan Bise Buduh" Maksud kata Buduh disini adalah bingung atau minimal salah tafsir.

Dulu waktu saya kecil sering mendengar bahwa banyak orang-orang jaman itu memang menjadi gila setelah mempelajari agama. Apa sebab? Soalnya ajaran yang dipelajari adalah Tatwa atau filsafat yang sangat tinggi. Sementara mereka tidak mengenyam pendidikan atau paling tinggi lulusan sekolah dasar. Atau banyak juga katanya pergi bertapa ke gunung, goa, hutan, dan sebagainya. Tapi akhirnya yang diperoleh bukanlah kesaktian tapi malah tewas karena kehabisan bekal makanan. Ini karena salah menafsirkan agama.

Itu karena mereka belum mampu mengalahkan musuh dalam dirinya sendiri yakni Ahamkara atau egoisme. Dan seperti yang saya katakan tadi karena kurang komprehensif mempelajari Hindu. Dalam sejarah perjalanan Hindu mengalami proses tahafan seperti jaman Brahmana kemudian pengaruh ajaran Bairawa. Dan terakhir Upanisad. Kalau kita mempelajari semuanya maka kita tidak akan fanatik, tidak akan heran dan tidak akan egois dengan pendapat sendiri. Mau menempuh jalan ritual atau jalan meditasi, itu tergantung kemampuan tingkat spiritual kita masing-masing.

Ajaran yoga atau pengendalian diri seperti amarah, nafsu, ambisius, dengki, egois, rakus, menyakiti, iri, dan lain-lain, itulah ajaran yang tertinggi. Sedangkan jalan ritual yang berbentuk phisik atau masih berupa benda adalah ajaran untuk orang awam yang tingkat spiritualnya masih kelas bawah. Tapi sama-sama sah sesuai tingkatan orang masing-masing sepanjang dilakukan dengan tulus, tekun dan serius. Inilah makanya dalam Bhagawadgita ada ucapan " Jalan manapun yang kau tempuh akan sampai kepadaku sepanjang dilakukan dengan tulus hati. Sekaligus ajaran inilah yang menjadi cikal-bakal toleransinya Hindu.

Walaupun saya tahu sedikit masalah sejarah proses perjalanan agama Hindu, tapi saya tetap cinta dan taat melakukan cara-cara beragama tradisional. Asalkan beragama tradisional jangan sampai menyusahkan umat.

Sabtu, 14 Maret 2015

Kenapa Hindu Di Bali Memuja Dan Menyembah Bhutakala?

Menurut saya, tradisi menyembah Bhutakala bukan hanya ada di Hindu Bali.Hindu di India pun mengenal tradisi menyembah Bhuta. Kalau tak percaya, coba saksikan film India yang berjudul Mahadewa. Ketika terjadi perang antara para dewa melawan para Bhuta. Bukankah boss para dewa adalah dewa Siwa juga? Jadi kesimpulannya adalah dewa dan Bhuta itu pada prinsipnya adalah sama-sama anak dari tuhan. Dan yang perlu kita ingat  adalah film Mahadewa adalah produk India dan bukan produk Bali. Dengan kata lain umat Hindu di India pun mengakui bahwa Bhuta  itu bukan mahluk haram. Maka dari itu, Hindu di Bali mengenal istilah Dewa Ya Bhuta Juga Ya.

Kemudian pada hari Pengrupukan atau malam sebelum hari Nyepi ada istilah Nyomia Bhuta menjadi dewa yang disebut dengan ritual Tawur Kasanga. Hindu di Bali juga membuat Ogoh-Ogoh pada hari itu sebagai simbol perwujudan Bhutakala. Oleh karena dewa dan Bhuta sama-sama anak dari tuhan, makanya Bhuta dalam Hindu tidak diusir atau dimusuhi. Melainkan dibri Labahan atau Segehan [makanan] agar mereka tidak mengganggu menurut mitologi Hindu di Bali.

Memberi makanan tidak sama dengan menyembah sebagaimana pendapat agama non Hindu dan orang yang mengaku Hindu tidak boleh berpandangan seperti itu. Kita menyayangi dan memberi makan pada sapi bukan berarti kita menyembah sapi melainkan simbol menyayangi semua mahluk atau yang biasa disebut dengan Prema.

Orang yang terbiasa membaca kitab suci pasti selalu menanyakan sesuatu hal atau tadisi itu apakah ada dalam kitab suci. Hal itu adalah wajar dan tidak salah. Mereka ingin tahu dan mereka sudah mulai berpikiran kritis. Maka dari itu kita sebagai Hindu harus bisa menjelaskan sesuatu kepada mereka yang belum mengerti. Karena Hindu itu bukan agama hukum dan tidak bisa dilihat dengan kacamata kuda. Belajar Hindu harus secara komprehensif dan kronologis. Contohnya, apakah Ogoh-Ogoh ada dalam kitab suci? Tentu saja tidak ada. Pasalnya dasar sastra yang menyebut Ogoh-Ogoh memanglah tidak ada. Tapi yang ada hanyalah mengusir Bhutakala. Dan mengusir Bhutakala model Hindu tidaklah sama caranya dengan model agama lain dalam mengusir setan. Kalau agama lain mengusir setan dengan cara kasar yakni dilempar. Tapi kalau cara Hindu adalah dengan menyenangkan atau memberi Segehan atau Caru. Sementara Ogoh-Ogoh adalah Bhutakala yang Personofikasi atau dibuatkan wujud.

Banyak orang-orang yang suka filsafat sering menyarankan agar tradisi mengarak ogoh-ogoh saat malam sebelum Nyepi dihilangkan. Tentu saja hal ini akan menjadi kontroversi dan menjadi polemik yang berkepanjangan. Jika Ogoh-Ogoh dihilangkan, itu artinya sama dengan menghapus Hindu karena itu adalah hiburan keagamaan. Tapi yang harus selalu ada dalam menyambut Nyepi adalah penyucian desa dan rumah dengan api. Tujuannya untuk menetralisir hal-hal negatif ataupun kekotoran.

Kenapa di Bali harus ada Ogoh-Ogoh ketika menyambut Nyepi? Karena Ogoh-Ogoh di Bali adalah simbol Bhutakala atau sifat negatif manusia. Makanya Bhutakala itu tidak dihilangkan dengan cara kasar tetapi dengan cara halus. Denga cara memberikan Caru atau Segehan yang disebut Tawur Kesanga agar Bhutakala itu senang hatinya. Ketika hatinya sudah senang maka beliau akan berubah menjadi Dewa menurut konsep Hindu Di Bali. Ketika beliau telah berubah menjadi Dewa, maka kita akan tenang melakukan Catur Brata Penyepian yaitu empat hal yang dilarang saat Nyepi diantaranya tidak boleh menyalakan api. Dan api disini bukan saja berarti api, tetapi juga berarti api amarah yang ada di dalam diri manusia dan api hawa nafsu yang disebut Sadripu (anda bisa baca bagian dari Sadripu di topik lain). Yang kedua tidak boleh bekerja, ketiga tidak boleh bepergian, dan keempat adalah tidak boleh bersenang-senang.

Saya sangat setuju dengan adanya Ogoh-Ogoh di malam Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Asalkan Ogoh-Ogoh Itu berbentuk Bhutakala seperti Raksasa, Celuluk, Rangda dan lain-lain. Asalkan Ogoh-Ogoh itu tidak menyimpang dari tema Bhutakala. Karena jaman sekarang itu kreatifitas seseorang hampir melewati batas norma kemanusiaan yang melanggar undang-undang Pornografhy. Misalnya membuat ogoh-ogoh yang bersifat Porno dengan memperlihatkan alat kelamin pada ogoh-Ogoh. Kalau Ogoh-Ogoh sampai dibuat ada kelaminnya, itu oknum perorangan yang tidak mengerti filsafat agama, etika, dan ritual dan juga tidak memikirkan dampak negatifnya. Ogoh-Ogoh yang menampilkan hal-hal porno sangatlah bertentangan dengan undang-undang Pornografi dan juga bertentangan dengan ajaran agama.

Selain menyembah Bhutakala, Hindu di Bali juga mengenal konsep memanusiakan alam atau lingkungan dan juga memanusiakan tuhan. Makanya orang-orang yang tidak paham dengan Hindu tradisi Bali, mereka pasti akan mengatakan bahwa Hindu di Bali adalah penyembah mahluk halus, bersekutu dengan setan, iblis, penyembah berhala, pohon, batu, dan lain-lain.

Konsep memanusiakan alam dalam tradisi Bali misalnya pohon dihiasi dengan pakaian layaknya manusia mengenakan pakaian. Pohon juga diberikan hidangan layaknya manusia diberi hidangan. Bagaimanapun juga, Hindu di Bali tetap memegang teguh konsep Wyapi Wyapaka yang artinya tuhan ada di mana saja tremasuk ada di pohon, batu, dan lain-lain. Meskipun Hindu di Bali dituduh penyembah berhala, tapi Hindu di Bali tetapmemuja Hyang Widhi. Mengenai Hindu di Bali diperbolehkan mempersembahkan darah dan daging binatang, itu disebabkan karena Hindu di Bali menganut paham Siwa Sidanta dan Bairawa

Umat Hindu di Bali banyak dipengaruhi faham atau filsafat dari Siwa Sidhanta sehingga tak heran hampir setiap pura di Bali memiliki Pratima dalam wujud sakti Kroda. Wujud Barong, Ratu Ayu, Ratu Niang, Ratu Gede, Ratu Jero Wayan adalah yang paling populer selain itu ada juga berbagai macam Tapel dari wujud binatang sampai pada wujud raksasa. Bentuk dan wajah yang menyeramkan ini dipuja guna memperoleh perlindungan dan sifat-sifat jahat itu sendiri.

Hindu memandang Bhutakala ataupun mahluk jahat yang lain bukan sebagai unsur kejahatan mutlak, bukan sebagai musuh, atau sesuatu yang seharusnya tak ada di antara manusia dan tuhan. Melainkan bagian dari rangkaian penciptaan yang lahir dari sang pencipta sendiri. Tanpa kehadiran mereka, tidak akan ada yang disebut sebagai kebaikan. Bagaimana kalau kekuatan jahat itu tidak ada? Mungkin alam yang kita pijak sekarang ini bukanlah bernama bumi. Disinilah tempat keberadaannya semua Tatwa termasuk Rwa Bhineda sebagai dua perbedaan yang tetap seimbang. Umat Hindu pada saat melaksanakan rangkaian upacara apapun, selalu menghadirkan atau mengundang para Bhutakala dalam upacara yadnya. Bhutakala juga diundang untuk diberi sesajen dan setelah mereka menikmatinya diharapkan untuk tidak mengganggu proses dan jalannya upacara yadnya. Satu hal lagi yang unik yaitu rasa bersahabat yang diberikan dan ditunjukkan oleh orang-orang Hindu kepada Bhutakala, dimana setiap pagi setelah kita memasak, kita memberikan persembahan rutin dalam wujud Yadnya Sesa. Semua yang kita lakukan itu ada landasan Filosofinya dari Weda sendiri. Bukan sekedar ritual yang tak beralasan dan yang bersifat sia-sia. Bukan suatu ketakutan dari orang-orang Hindu terhadap kekuatan Bhutakala apalagi untuk menduakan tuhan.

Makna Ritual Mecaru Untuk Bhutakala.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ritual Mecaru atau Tawur mempunyai makna untuk memberikan upah kepada para Bhuta supaya tidak mengganggu saat melaksanakan pemujaan. Setelah para Bhuta tersebut diberikan Lelaban atau upah melalui ritual Mecaru, maka mereka tidak akan mengganggu dalam kurun waktu tertentu sesuai besarnya upah yang diberikan. Setelah kurun waktunya habis maka para Bhuta tersebut akan mengganggu lagi sehingga perlu dilakukan ritual Mecaru lagi, begitu seterusnya. Kenapa para Bhuta perlu diberikan upah sebelum melaksanakan pemujaan? Secara umum, umat Hindu di Bali melakukan pemujaan akan mempersembahkan daging yang merupakan kesenangan para Bhuta. Jika para Bhuta tersebut tidak diberikan upah maka persembahan yang ada dagingnya tersebut akan diambil oleh para Bhuta. Berbeda halnya jika dalam melakukan pemujaan tidak mempersembahkan daging maka tidak perlu dilakukan ritual Mecaru. Karena persembahan tersebut tidak akan diganggu karena tidak ada dagingnya. Yang dimaksud Nyomya saat ritual Mecaru adalah berdamai. Artinya setelah para Bhuta diberikan upah melalui ritual Mecaru atau Tawur maka mereka tidak akan mengganggu karena sudah berdamai dalam kurun waktu tertentu. Dalam Bhagawadgita sloka 13-21 dijelaskan bahwa alam adalah penyebab segala sebab dan akibat material. Sedangkan mahluk hidup adalah penyebab berbagai penderitaan dan kenikmatan di dunia ini. Mungkin penjelasan dari sloka di atas adalah apabila Atman menempati badan sebagai para Bhuta maka ia akan berprilaku sebagai para Bhuta dan ia tidak akan bisa merubah prilakunya apalagi seperti para Dewa. Hanya dengan diberikan Lelaban atau segehan melalui ritual Mecaru. Selain itu, yang berwenang menentukan naik turunnya tingkat sang roh adalah perbuatannya sendiri dan rasa bhaktinya terhadap tuhan.

Sementara ritual Kesanga atau sehari sebelum Nyepi merupakan upacara Bhuta Yadnya untuk menghilangkan unsur-unsur kejahatan yang merusak kesejahteraan umat manusia. Tawur artinya membayar atau mengembalikan sari-sari alam yang telah digunakan manusia. Sari alam itu dikembalikan melalui upacara Tawur yang dipersembahkan kepada para Bhuta dengan tujuan agar para Bhuta tidak mengganggu manusia sehingga bisa hidup secara harmonis.


Minggu, 30 November 2014

Menyembah Alam Tidak Betentangan Dengan Weda.

Hindu dalam tradisi Bali mengenal konsep memanusiakan alam atau lingkungan dan juga memanusiakan tuhan. Makanya orang-orang yang tidak paham dengan Hindu tradisi Bali, mereka pasti akan mengatakan bahwa Hindu di Bali adalah penyembah mahluk halus, setan, iblis, menyembah pohon, batu, dan lain-lain.

Konsep memanusiakan alam dalam tradisi Bali misalnya pohon dihiasi dengan pakaian seperti manusia mengenakan pakaian. Pohon juga diberikan hidangan seperti kopi dan kue setiap pagi. Hal itu mungkin disebabkan karena manusia minum kopi setiap pagi.

Hindu di Bali juga mengenal konsep Wyapi Wyapaka yang artinya tuhan ada dimana saja termasuk ada di pohon, batu, dan lain-lain. Meskipun Hindu di Bali dituduh menyembah pohon dan batu, tapi Hindu di Bali tetap memuja Hyang Widhi.

Dalam grup Bangkitnya Hindu dan Paguyuban Hindu baru-baru ini ada seorang Netizen memposting sebuah status yang kata-katanya terkesan sangat tinggi spiritualnya. Tetapi di balik spiritualnya yang sangat tinggi, banyak kelompok-kelompok Hindu yang merasa tersinggung setelah membaca postingan tersebut dan menjadi polemik yang berkepanjangan. Isi postingan sebagai berikut : jangan menyembah dan bersujud kepada benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang. Juga benda-benda bumi seperti gunung, laut, pepohonan, dan manusia dan lain-lain. Pasalnya mereka tidak dapat berbuat apapun tanpa kehendak tuhan. Tetapi kamu harus menyembah dan bersujud langsung kepada tuhan. Juga jangan memberi sesajen kepada lukisan, patung, dan arca-arca yang diberi nama itu. Pasalnya mereka sama sekali tidak dapat melihat, mendengar, apalagi mengabulkan permohonan kamu. Tetapi kamu harus memohon langsung kepada tuhan sebab tuhan lebih pintar, maha kuasa, maha melihat dan mendengar doa-doa kamu.

Menurut saya, memang tulisannya sangat tinggi dari segi spiritual. Tapi sayangnya, dia cenderung menganggap orang yang masih membutuhkan media untuk mengekpresikan rasa bhaktinya kepada tuhan itu salah. Padahal semua agama saat ini masih menggunakan media untuk mengekpresikan agamanya. Memusatkan pikiran pada tuhan menggunakan media dalam agama Hindu sebenarnya tidak bertentangan dengan Weda. Ibarat kita mau mendengarkan berita, maka kita sudah pasti membutuhkan media yang bernama radio. Karena media itu sangat penting untuk mencapai apa yang kita cari. Demikian juga dalam mencari tuhan apapun ciptaannya yang sudah disakralkan itu diyakini dapat jadi media untuk bhakti kepada tuhan.

Ibarat kita ingin mengucapkan rasa teimakasih kepada presiden karena kita telah mendapatkan dana bantuan, lalu apakah kita harus pergi ke Jakarta untuk bertemu presiden? Nah, maka dari itu dibuatkanlah media seperti laptop, ponsel dan sebagainya sebagai sarana untuk media sosial. Misalnya saat saya menerima telephone dari sahabat maka saya berbincang melalui ponsel tersebut. Kemudian orang dungu menyangka saya berbicara dengan benda mati tersebut. Padahal saya berbicara dengan sahabat melalui bantuan media tersebut.

Ingat, kata menyembah dengan mentuhankan itu berbeda. Jika kita melarang seseorang untuk menyembah matahari, sama halnya kita menistakan agama Hindu. Karena dalam Hindu ada istilah Surya Sewana yaitu penghormatan terhadap dewa matahari. Saat kita berjapa Gayatri Mantram, kita juga telah menghormati dewa matahari. Makanya orang yang melakukan Japa Gayatri Mantram dilakukan pada pagi hari saat matahari terbit, saat matahari berada di tengah, dan saat matahari mau terbenam.

Bahkan di Bali mengenal istilah Pelinggih Surya yaitu simbol dari stana dewa Surya atau dewa matahari. Pelinggih gunung agung simbol dari penguasa gunung agung, Pelinggih Ratu Gede Segara simbol dari penguasa laut. Saat kita menyembah alam, yang kita sembah sebenarnya adalah roh dari alam tersebut. Sebab di Bali ada konsep Trihita Karana yaitu menghormati tuhan, menghormati antar sesama mahluk hidup, dan menghormati alam.

Bagaimana mungkin kita bisa bersujud langsung kepada tuhan sebab tuhan itu bersifat Acintya yaitu tidak terwujud dan tidak bisa terbayangkan. Karena tidak bisa terbayangkan maka manusia membuatkan simbol-simbol tuhan seperti lukisan, patung, dan arca. Ingat, sesajen itu bukanlah makanan tuhan tetapi simbol dari perwujudan tuhan. Dalam Bhagawadgita 9-16 dijelaskan bahwa aku adalah kegiatan ritual dan upacara korban. Aku adalah persembahan leluhur dan ramuan obat. Aku adalah ucapan suci dan keju cair. Aku adalah api dan juga persembahan.

Keindahan Sanatana Dharma adalah kita bisa menemukannya dengan berbagai cara. Apa yang dia sampaikan itu, saya rasa tidak salah. Tetapi bisa menimbulkan polemik. Memahami kebenaran mutlak kita harus mampu menembus Rwa Bhineda.

Jumat, 01 Agustus 2014

Penyebab Orang Bali Dituduh Jarang Membaca Weda.

Sebenarnya umat Hindu di bali suka membaca Weda. Tapi karena Weda tidak sama dengan kitab suci agama lain yang hanya berupa satu buku dan Weda sangat luas serta sudah dijabarkan oleh para Maharsi, Sulinggih, Pujangga, ke dalam buku dengan judul tersendiri tapi sudah merangkum semua isi Weda, makanya orang Hindu di Bali dikatakan jarang membaca weda. Selain itu, Hindu di Bali lebih mengutamakan praktek perbuatan baik daripada teori seperti menghafal ayat-ayat, dan lain-lain. Dimana inti ajaran Weda sudah ditransformasikan ke dalam cerita rakyat Bali dengan bahasa yang mudah sehingga walaupun umat Hindu di Bali maupun di India tidak tahu ayat suci, tapi kepribadiannya jauh lebih mulia daripada agama lain yang sangat hafal pada ayat-ayat suci, inilah sebenarnya tujuan inti agama. Praktek inilah justru yang lebih penting daripada teori.

Perlu diketahui bahwa teori itu tujuannya untuk kepentingan Sconder atau bersifat duniawi. Misalnya untuk guru kepada murid, untuk diskusi, untuk menjawab pertanyaan  dari agama lain. Sedangkan tujuan praktek lebih utama atau Primer yakni kepada tuhan. Sementara tuhan tidak perlu teori karena tuhan maha tahu semua teori agama, tahu segala bahasa. Jadi kita tidak perlu menghafal ayat suci atau bahasa Sanskerta kepada tuhan yang tahu segalanya. Tuhan hanya perlu kita berbuat baik. Justru dengan hafal menjurus kita menjadi sombong yang justru akan menjauhkan kita kepada tuhan. Walaupun Hindu sering dilecehkan agama lain, tapi tuhan tidak pernah melecehkan umatnya. Tapi teori memang perlu untuk berbagi ilmu kepada teman-teman sedharma.

Semenatara Yudistya Wayan dalam group Facebook Hindu menjelaskan setelah ajaran Hindu di Bali dituduh tidak sesuai Weda, kini ada tuduhan lain terhadap Hindu di Bali yaitu anti India bahkan anti Weda. Ternyata slogan Depang Anake Ngadanin memang salah satu jargon yang simple untuk tidak memicu perdebatan dan tidak mempertajam masalah. Saya merasa tidak pernah membaca Weda tetapi dengan mencoba memahami keseharian kita yang sudah melantunkan sloka Weda melalui Puja Trisandya, Panca Sembah dan sebagainya, kita sebenarnya sudah memaknai ajaran Ithasa dan mengaplikasikannya dalam setiap yadnya. Kita sudah menggunakan Purana sebagai patokan dalam membuat tempat suci seperti Padmasana. Leluhur kita mewariskan Sruti, Smerti, Purana, dan Itihasa dalam bentuk lontar yang telah disalin dalam bentuk buku. Kidung Kekawin dan pementasan seni menggunakan acuan lontar tersebut. Ternyata saya sudah membaca Weda sejak dulu. Bahkan mengaplikasikannya langsung dalam keseharian. Jika Bali anti India, tidak mungkin Ashram menjamur seperti sekarang. Tidak berpakaian ala India bukan berarti anti India.

Wacana Back To Veda sesungguhnya wacana yang Nyleneh dan wacana yang perlu dikaji ulang. Sebab praktek agama Hindu di Bali selalu merujuk pada weda. Semua aspek kehidupan berdasarkan pada ajaran yang bersumber pada pustaka suci weda. Pustaka suci weda bukanlah satu kitab suci sebagaimana kitab agama lain. Pustaka suci weda adalah kumpulan dari berbagai buku suci yang sangat banyak. Untuk memahami weda, kita mesti memahami peta kodifikasi sebagaimana telah dikompilasikan oleh Bhagawan Wyasa. Ada weda Sruti dan Smerti. Sruti terbagi menjadi kitab Mantra, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. Kitab Mantra terdiri dari Reg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda. Kemudian masing-masing Catur Weda memiliki kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad. Ada pun Smerti terdiri dari kitab Sda Wedangga yaitu Siksa, Wyakarana, Canda, Nirukta, Jyotisa, dan Kalpa. Kitab Kalpa terdiri dari Srautasruta, Giyasutra, Dharmasutra, dan Sulwasutra. Kemudian kitab Upaweda yaitu Ithasa, Purana, Artasastra, Gandarwa Weda, dan Kamasutra.

Selanjutnya di Bali, tidak semua kitab tersebut dapat ditemukan dan diterapkan dalam praktek agama Hindu. Berdasarkan catatan Hooykaas dan Goris, di Bali belum ditemukan weda sebagaimana aslinya seperti Catur Weda, Upanisad dan sebagainya. Justru di Bali praktek agama Hindu berdasarkan pada Catur Weda Sirah yakni kitab yang memuat intisari dari Sanghyang Weda Samhita. Kemudian hampir keseluruhan praktek agama berdasarkan pada Lontar yang terbagi menjadi Lontar Tatwa, Susila, Upakara, Tutur, Kawisesan, Kelepasan, Keputusan, dan Lontar Sastra seperti Kekawin dan Geguritan. Menariknya lagi, di Bali, ajaran dan nilai Weda dalam lontar dan teks-teks sejenis diwujudkan dalam praktek ritual dalam kehidupan sehari-hari. Warga Hindu di Bali tidak akan memahami weda secara teoritis. Tetapi sudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak memahami weda tetapi melakoninya dalam tindakan dan ritual yang sudah mencerminkan nilai weda. Jadi wacana Back To Veda bukan diartikan agama Hindu di Bali tak berdasarkan pada weda. Tetapi kembali memaknai praktek agama Hindu di Bali sehingga tidak hanya berhenti pada ritual. Tetapi memaknai dan mewujudkan dalam prilaku. {sumber: Ketut Sandika dalam group Facebook 'Hindu" }

Selasa, 29 Juli 2014

Konsep Hindu Memuja Leluhur Di Sanggah Kemulan.

Kenapa umat Hindu di Bali memuja leluhur? Kenapa harus memiliki Sanggah Kemulan? Dan kenapa tidak memuja tuhan saja? Anda akan berhasil menemukan jawabannya jika anda rajin belajar Hindu secara kronologis dan komprehensif. Sanggah Kemulan merupakan konsepsi dari Mpu Kuturan. Bila Sanggah Kemulan dikaitkan dengan Tri Purusa itu adalah stana dari Sanghyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa, dan Paramasiwa. Bila dikaitkan dengan Tri Murti yaitu stana Brahma, Wisnu, dan Siwa. Bila dikaitkan dengan leluhur, di kanan untuk leluhur laki, di kiri untuk leluhur perempuan dan di tengah adalah Bhatara Guru. Terlepas dari leluhur kita mendapatkan sorga neraka, reinkarnasi dan Moksa Karana di Sanggah Kemulan itu adalah simbol dari penghormatan kepada para leluhur. Sedangkan Bhatara Guru dalam Mantra Guru Stawa adalah disebutkan Brahma, Wisnu, Dan Siwa adalah guru dari Tri Loka. Kita lihat di India, seorang anak akan menyentuh kaki orang tuanya untuk mendapatkan restu dari orang tua. Sementara di Bali, kita tidak menyentuh kaki orangtua tiap hari tetapi kita diajarkan selalu hormat dan bhakti pada orangtua bukan hanya pada saat masih hidup tapi sampai mereka meninggal menjadi leluhur. Pasalnya umat Hindu di Bali meyakini seorang anak tidak akan bisa membalas kebaikan orangtua bukan hanya pada saat mereka masih hidup. Bahkan sampai meninggal pun seorang anak memohon restu pada orangtua di Sanggah Kemulan.

Pelinggih Kemulan merupakan Pelinggih yang paling inti dalam Sanggah atau Merajan. Dalam Pelinggih Kemulan Rong Tiga sesungguhnya yang disembah atau disungsung adalah Ida Bhatara Guru atau leluhur yang telah suci. Masalah ini diputuskan dalam seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu dimana ditetapkan bahwa Kemulan Rong Tiga adalah Pelinggih Trimurti atau Hyang Kamimitan atau Hyang Kemulan. Menurut Prof. Dr Tjok Rai Sudharta MA {Sarad No 41/2003} ada beberapa isi lontar yang sejalan dengan penjelasan di atas adalah Lontar Usana Dewa yang menyebutkan pada Sanggah Kemulan yang berstana adalah Paramatma, Atma, dan Siwatma. Dalam Lontar Purwa Bumi Kemulan yang berstana di Sanggah Kemulan adalah Bhatara Hyang Guru atau guru Rupaka. Sementara dalam Lontar Siwagama Kemulan yang berstana di Sanggah Kemulan adalah Sang Pitara. Mengapa kita menyembah roh leluhur yang telah suci? Kita melakukan hal itu karena tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah bersatu dengan yang maha suci.

Di dalam Reg Weda dikatakan bhakti kepada leluhur menguatkan bhati kepada tuhan. Artinya seseorang tidak akan bisa mencapai tuhan tanpa restu orangtua atau leluhur. Kita di Bali juga meyakini leluhur dari para leluhur bila ditarik ke atas adalah tuhan itu sendiri sehingga Sanggah Kemulan juga adalah simbol Tri Murti dan Tri Purusa. Suatu bentuk implementasi Weda yang sangat luar biasa yang sudah dikonsepkan oleh Mpu Kuturan bukan hanya sebatas kata-kata tetapi diwujudkan ajaran Weda itu di Bali. Bila ada sekte tertentu mengatakan agama Hindu di Bali tidak sesuai Weda, saya rasa mereka perlu belajar dan mendalami agama Hinddu yang ada di Bali. Sanggah Kemulan yang dikenal dengan Rong Telu adalah stana dari Brahma, Wisnu, dan Siwa. Sedangkan di bawahnya terdapat ruang kosong tempat pemujaan para leluhur yang telah dibuatkan upacara Ngaben. Hal ini dimaksud agar umat Hindu di Bali tidak lupa bhakti pada tuhan dan para leluhurnya. Lalu sejauh manakah kita melaksanakannya? Yang terpenting bhakti kita pada leluhur adalah saat mereka masih hidup agar jangan disia-siakan. Mohon jadikan mereka raja di rumah sendiri.

Konsep ketuhanan Hindu dalam sudut pandang Brahma Widya atau Theologi diawali dengan Brahman atau tuhan yang tunggal. Kemudian berubah menjadi tiga aspek yaitu Tri Purusa yakni Paramasiwa, Shadasiwa, dan Siwa. Paramasiwa adalah kedudukan tertinggi maha gaib, tidak terpikirkan, maha suci {Nirguna Brahman} Sementara Shadasiwa adalah maha sakti, sudah bermanifestasi {Saguna Brahman} Berwujud Tri Murti dan dewa-dewa lain sesuai fungsinya. Sedangkan Siwa yaitu mengejewantah dalam kehidupan alam semesta. Beliau telah terpengaruh oleh sifat maya, hukum alam, dan hukum sebab akibat. Wujud beliau adalah Atman atau roh. Bertemunya Atman dengan unsur Panca Mahabuta atau badan fisik akan menjadi mahluk hidup termasuk manusia. Manusia bisa hidup karena adanya Atman. Sementara Atman berasal dari Brahman atau tuhan. Dalam Weda disebutkan Brahman Atman Aikyam yang artinya Brahman dan Atman adalah tunggal. Dalam Brahma Widya tentang penciptaan tuhan atau Brahman dalam manifestasi sebagai dewa Brahma dalam wujud Sanghyang Prajapati menciptakan manusia yang pertama yang disebut Manu.


Minggu, 08 Juni 2014

Penyebab Terjadinya Perdebatan Diskusi Hindu Di Media Sosial.

Kenapa kita sering membaca perdebatan-perdebatan yang sangat sengit dalam sebuah Postingan atau dalam sebuah komentar di group Facebook terutama di group yang bernuansa Hindu? Mungkin ini adalah beberapa faktor yang menjadi penyebabnya diantaranya adalah karena latar belakang yang menjadi anggota kebanyakan berbeda etnis maupun berbeda aliran atau sekte. Masing-masing anggota suka berdebat karena mempertahankan prinsipnya, terkadang memiliki egois yang sangat tinggi, merasa paling benar, prinsip orang lain selalu dianggap salah, dan lain-lain.

Selain itu, dalam sebuah group bernuansa Hindu sudah pasti ada pengguna akun dari Non Hindu yang sengaja menyamar menjadi pengguna akun beragama Hindu. Mereka sengaja membuat Postingan atau komentar yang bersifat Provocatif agar Hindu itu menjadi pecah. Misalnya kita sering menjumpai ada oknum yang sengaja membuat Postingan seakan-akan melecehkan Haree Khrisna. Atau juga sebaliknya, ada oknum yang sengaja membuat Postingan seakan-akan menjelekkan ritual di Bali atau menjelek-jelekkan adat dan budaya orang Bali.

Hal itu sering saya jumpai ketika saya masih menjadi anggota di group Paguyuban Hindu. Saya hampir saja ikut termakan perdebatan dari dua buah kubu yang saling menjatuhkan. Untuk menghindari pertengkaran, saya kemudian sengaja keluar dari group tersebut. Karena jika kita sebagai penekun Hindu sejati seharusnya saling menghargai Hindu walaupun berbeda etnis maupun berbeda sekte. Jika kita saling menghargai antar sesama Hindu, maka sudah dipastikan Hindu tak mungkin akan pecah. Karena jati diri orang Hindu adalah suka menerima perbedaan serta menghormati budaya dan kearifan lokal.

Sejak saya keluar dari group itu, hidup saya menjadi lebih nyaman karena bisa belajar Hindu melalui majalah atau koran, melalui buku, melalui Internet, mendengarkan Dharma Wacana, dan lain-lain. Karena disana tidak ada perdebatan, pertengkaran, maupun saling hujat. Karena belajar Hindu yang benar adalah dengan cara Kronologis dan Komprehensif.

Opini Dari Bpk Panca Putra.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sementara Bpk Panca Putra ketika dikonfirmasi lewat pesan singkat menjelaskan bahwa itu semua disebabkan oleh reformasi agama dimana tadinya kita semua buta agama. Negara kita juga begitu. Awal reformasi terjadi Eforia dan gegap gempita. Segala sesuatu dianggap salah dan dinilai dengan hak asazi manusia. Kalau kita ingin mempelajari agama seharusnya secara komprehensif dan dari segala segi. Juga secara berurutan maka kita tidak akan kaget seperti itu. Ibarat membaca buku maka kita harus membaca bab per bab secara berurutan. Tidak bisa sekarang membaca bab 1, besok membaca bab 10. Supaya tidak bingung karena terkesan Kontradiktif satu sama lain.

Menilai ajaran agama harus proforsional. Karena setiap buku memiliki misi tertentu dan metodologi berbeda walaupun untuk tujuan yang sama. Karena kita baru seperti terbuka kran agamanya sehingga ibarat orang kelaparan tiba-tiba melihat makanan, maka tanpa banyak pikir, semua dilahap. Padahal masing-masing makanan punya peruntukan tertentu. Akhirnya walaupun seseorang itu banyak membaca buku, mereka belum tentu paham terhadap maksud dari buku tersebut.