Sabtu, 26 Januari 2013

Nasib Etnis Bali Di Pulau Lain.

Pada pertengahan bulan Januari 2013, terjadi konflik antara etnis Bali dengan warga Sumbawa di Sumbawa. Apakah benar tragedi pembakaran dapur pura milik etnis Bali di Sumbawa yang diserang dengan bom molotov oleh warga Sumbawa membuktikan bahwa pemerintah gagal melindungi rakyatnya? Etnis Bali di pulau lain memang ulet bekerja dan banyak yang sukses sehingga warga pribumi di pulau lain menjadi iri. Nah, sekarang siapa yang sebenarnya suka membuat kekerasan di Indonesia? Biarkanlah hukum Karma tetap berjalan.

Munculnya konflik diperkirakan karena kecemburuan sosial. Masalah nasib yang dialami etnis Bali di pulau lain, selama ini pemerintah sudah baik tapi belum substantif. Selain diberikan bantuan, dihibur dengan ceramah, dan lain sebagainya, seharusnya pemerintah menyelidiki atau mencari jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: Mengapa hal yang dialami oleh perantau Bali, modusnya sama dimana saja yakni pembakaran, penjarahan yang terkesan sistemik. Kalau alasan karena kecemburuan dan ketidakadilan, pertanyaannya adalah apakah orang Bali tidak punya juga rasa cemburu seperti komunitas lain? Tapi kenapa di Bali tidak terjadi? Apakah perantau di Bali tidak ada yang kaya atau sukses sebagaimana orang Bali di luar Bali? Begitu juga apakah orang Bali sudah merasakan keadilan? Tapi kenapa orang Bali tidak bisa melakukan hal yang sama? seharusnya solusi dicari atas dasar ini. Mengingat disinilah sumber aslinya. Bukan dialihkan kepada alasan yang lain sehingga kejadian serupa terulang terus. Karena analisa dan solusinya tidak tepat ke titik pusat penyebab penyakit.

Apakah benar orang Bali terlalu banyak mengalah dan kurang bersatu sehingga provokator mudah memprovokasi orang Bali? Menurut saya, mengalah bukan berarti kalah. Pada umumnya transmigrans Bali sudah bersatu. Cuma kalau dihadapkan dengan begitu banyak massa, pasti kalah. Jika satu lawan satu, kita yakin orang Bali tidak takut. Tapi bukan itu jalan keluarnya. Orang Bali masih berpikir jauh yaitu keselamatan keluarga dan masa depan, karena sadar Minoritas.

Etnis Bali Di Lombok
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nasib etnis Bali yang paling bagus hanyalah di kota Cakranegara- Mataram- Lombok. Seperti yang diceritakan oleh bapak Ketut Panca Putra lewat obrolan pesan singkat. Menurut sejarah, Orang Bali yang tinggal di Lombok bukan karena transmigrasi. Melainkan datang eksodus lewat perang antar kerajaan pada jaman dahulu sekitar tahun 1700. Lalu pada tahun 2001 pernah terjadi kebakaran gereja, tapi pura tidak ada yang berani mengganggu. Walaupun di Lombok ada perantau dari Bali, tapi ketika mendengar berita kasus di Sumbawa, justru orang Sumbawa yang tinggal di Lombok, tidak berani tinggal di rumahnya. Karena etnis Bali yang tinggal di Lombok sangat ditakuti oleh penduduk asli Lombok.

Pada tahun 1960, etnis Bali di Lombok selalu diejek oleh umat lain ketika ada salah satu etnis Bali yang sedang melakukan persembahyangan " Trisandya" Dan ketika orang Bali membawa sesajen atau Bebantenan, umat lain mengatakan bahwa tuhan dalam Hindu suka makan. Dulu Biasanya semua etnis Bali, telinganya dilubangi agar etnis Bali yang lain saling mengetahui sesama etnis Bali. Tapi sekarang tidak diijinkan karena akan dianggap Brandal dan susah kalau mencari pekerjaan. Etnis Bali biasanya dilarang memakai pakaian adat Bali ketika pergi ke sekolah.

Dalam sebuah opini di salah satu koran yang terbit di Bali mengingatkan bahwa etnis Bali { Hindu } jangan terlalu takut dan sopan berlebihan. Itulah sebabnya kita dilecehkan termasuk di Bali. Sementara kalau etnis Bali yang tinggal di Lombok, Orang lain tidak berani melakukan seperti kasus di Sumbawa dan di Lampung. Karena setiap kepala keluarga { Bali } yang tinggal di Lombok pasti memiliki keris dan tombak di rumahnya masing-masing. Mereka selalu siap tempur.

Haram hukumnya jika tidak membela diri karena membela diri adalah dibenarkan oleh hukum. Jadi jaman sekarang, kebenaran tidak cukup hanya dibicarakan. Tapi perlu dipraktekkan jika tidak jadi korban dan mati konyol. Seperti yang tersurat dalam kitab Canakya Nitisastra 4-15 bahwa ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam praktek kehidupan akan menjadi racun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

salam